Article

Investasi Anak Muda: Waktu Yang Tepat Tidak Pernah Datang

Investasi Anak Muda: Waktu Yang Tepat Tidak Pernah Datang

Nanda Putra Eriawan & Riady Raharjo tergabung dalam salah satu organisasi keuangan di Universitas Padjajaran, Bandung. Organisasi tersebut dikenal dengan nama “Financial Market Community”, dan telah dibentuk sejak tahun 2003. Hingga saat ini FMC sudah memiliki kurang lebih 50 anggota. Simak hasil wawancara Radio Finance Indonesia (RFI) bersama Nanda Putra Eriawan (NPE) dan Riady Raharjo (RR) dari Financial Market Community (FMC).
 
RFI : Apa visi & misi dibentuknya Financial Market Community ?

RR : Visi dari FMC adalah menjadi suatu organisasi pembelajaraan pasar keuangan yang berjiwa bisnis, dinamis, dan profesional. FMC ingin menjadi wadah untuk pengembangan potensi di bidang keuangan dari para anggota (aktif & pasif), dimana termasuk mahasiswa dan masyarakat  umum. Kami tidak ingin hanya anggota aktif FMC saja yang dapat mendapatkan benefit dari kegiatan FMC , namun juga termasuk orang-orang diluar FMC.
 
RFI : Apa saja pencapaian yang sudah didapatkan oleh FMC ?

NPE : Pada tahun 2011, FMC untuk pertama kali mengirim perwakilan untuk berpartisipasi di Indonesia Capital Market Student Studies (ICMSS) FEUI, dan pada kala itu perwakilan FMC berhasil meraih juara 1. Kemudian pada ICMSS 2014, 2 tim dari FMC berhasil masuk ke posisi 10 besar.
 
RFI : Seberapa luas cakupan dari FMC ?

RR : Cakupan FMC mencapai level fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi-Bisnis (FEB) UNPAD. Namun, kami tidak membatasi ruang lingkup anggota seperti hanya berasal dari mahasiswa jenjang S1 atau D3 saja. Kami terbuka untuk seluruh mahasiswa di FEB UNPAD, walaupun memang hingga saat ini kami belum melibatkan mahasiswa S2.
 
RFI : Bagaimana tanggapan kalian mengenai investasi di pandangan anak muda ?

NPE : Investasi masih merupakan suatu hal yang tabu di mata anak muda. Pasalnya,  kebanyakan orang tua mereka masih mendidik kalau media investasi hanya di tanah dan emas/perhiasan. Sehingga menurut saya, masih banyak anak muda yang belum familiar dengan produk modern seperti saham, obligasi, dan sebagainya. Selain itu, rasa takut juga menjadi salah satu hal yang menghambat anak muda untuk berinvestasi.

RR : Senada dengan Nanda, anak muda memang masih cenderung takut atau bahkan sebagian besar masih berpikir bahwa lebih baik investasi dikelola oleh manajer investasi (MI), tidak dikelola sendiri. Dimana kita hanya perlu menaruh sejumlah uang kepada pihak MI, lalu kemudian tinggal menunggu hasilnya.
 
RFI : Apa saja investasi yang kalian jalankan ?

NPE : Saat ini saya menjalankan investasi dalam bentuk saham dan sukuk.

RR : Kalau saya hanya berinvestasi di saham saja, belum ke reksadana dan lainnya.
 
RFI : Berdasarkan iklim investasi di Indonesia yang kalian lihat, menurut kalian kapankah waktu palig tepat untuk memulai investasi ?

NPE : Berdasarkan yang saya lihat, tidak ada kata “kapan” untuk memulai investasi, karena kita harus memulai investasi sedini mungkin. Seperti yang dapat kita lihat, prospek investasi/saham kedepannya cukup bagus. Jadi mulailah sedini mungkin, kalau bisa dimulai dari sekarang.
 
RFI : Menurut kalian, apa jenis dan produk investasi yang paling cocok bagi anak muda di Indonesia ?

NPE : Menurut saya, semua kembali ke profil resiko setiap orang. Apakah dia seorang yang risk-averse (tidak berani mengambil risiko) atau risk-taker (berani mengambi risiko)? Kebanyakan orang Indonesia memiliki profil risk-averse untuk berinvestasi, sehingga cenderung lebih suka berinvestasi di produk-prdouk yang tipenya memiliki pendapatan tetap seperti obligasi atau sukuk. Akan tetapi, apabila dia seorang risk-taker, sebaiknya langsung berinvestasi di saham saja.
 
RFI : Apa saran kalian bagi anak muda yang baru ingin memulai berinvestasi ?

RR : Tumbuhkan lah kegemaran untuk membaca. Pasalnya, saat ini referensi media untuk belajar berinvestasi sudah sangat banyak, simple, dan terjangkau. Seperti buku-buku mengenai saham dengan bahasa yang mudah dicerna dan dengan harga yang sangat terjangkau bagi anak muda, sudah bertebaran di berbagai toko buku di Indonesia. Media edukasinya saat ini sudah cukup memadai, satu hal yang masih diperlukan saat ini hanya lah keberanian tiap individu untuk memulai berinvestasi.
 
RFI : Apa harapan kalian untuk para investor muda saat ini ?

NPE : Saya berharap ke depannya kesadaran dan inisiatif untuk berinvestasi di Indonesia akan semakin menjamur. Karena banyak sekali peluang yang menanti orang-orang yang terjun ke dunia investasi. Seperti jumlah analis pasar modal yang ada di Indonesia saat ini masih sangat minim, rasio pemegang sertifikasi Chartered Financial Analyst (CFA) per kapita Indonesia pun masih sangat rendah, sehingga perlu ditingkatkan.
 
RFI : Apa pesan bagi finance people untuk segera berinvestasi ?

RR : Mulai lah berinvestasi sedini mungkin. Jangan terus menunggu waktu yang tepat untuk berinvestasi, karena pada akhirnya tidak akan ada waktu yang tepat. Untuk itu, lakukan lah metode learning by doing. Sambil berinvestasi, kalian juga dapat belajar dari sumber-sumber yang ada.
 

 

Radio Finance Indonesia

May 16th, 2014

No Comments